Kompasianers, itulah sepenggal kisah yang saya kutip dari cerita berjudul Evita Fannydi halaman 33 dari novel Lupus seri Cinta Olimpiade (PT. Gramedia Pustaka Utama, 1993). Cinta Olimpiade adalah salah satu novel dari lima novel Lupus yang sedang di-retouch oleh Hilman Hariwijaya.
Retouch adalah istilah dalam fotography maupun desain grafis, yakni memberikan sentuhan dengan efek-efek khusus agar foto atau grafis terlihat menarik. Nah, istilah ini juga berlaku dalam penulisan, yang berarti memberikan sentuhan kata atau kalimat dengan cara merevisi kembali novel lama, tanpa meninggalkan alur kisah yang ada. Namun, isi dari novel disesuaikan dengan kondisi masa kini.
“Sebenarnya ada dua project. Satu itu remake dari buku lama yang dibundel. Ada 5 buku jadi satu novel, tapi ditulis ulang dengan situasi sekarang,” papar pria kelahiran Jakarta, 24 Agutus 1964 ini. “Satunya lagi benar-benar novel baru Lupus.”
Buat Anda yang hidup di era 80-an dan 90-an, pasti mengenal jagoan ngocol bernama Lupus. Lupus adalah tokoh imajiner, seorang siswa SMA Merah Putih yang doyan makan permen karet dan punya rambut mirip John Taylor (anggota band Duran-Duran).
Novel Lupus sangat laris bak kacang goreng. Namun, istilah kacang goreng di sini bukan berarti novelnya cemen. Justru kisah-kisah Lupus sangat membumi. Semua remaja seakan mengalami apa yang dialami oleh tokoh imajiner berambut jambul ini. Gaya bahasa yang kocak menjadi tren saat itu, termasuk gaya berpakaian: kaos plus kemeja lengan panjang yang lengannya digulung dan tidak kancing.
Kompasianers, novel fiksi serial Lupus ini berawal dari sebuah sisipan di majalah HAI pada 1986. Ada beberapa cerita di dalam sisipan itu. Salah satunya Tangkaplah Daku Kau Kujitak. Waktu itu, dari judulnya saja bikin kita tersenyum. Kebetulan inspirasi judul ini didapat dari film yang saat itu memang booming, yakni Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986), yang dibintangi Dedi Mizwar dan Lidya Kandau.
Ternyata cerpen sisipan tentang Lupus di majalah HAI ini mendapat sambutan yang luar biasa dari pembaca. Tak heran, sejak itu, Lupus dijadikan serial tetap di majalah yang saat itu masih bermarkas di jalan Palmerah, Jakarta Barat. Baru setelah itu, PT. Gramedia Pustaka Utama (GPU) membukukan kisah Lupus, dan Tangkaplah Daku Kau Kujitak menjadi novel serial Lupus pertama, yang diterbitkan pertama kali Desember 1986.
Sudah diduga, novel serial pertama Lupus yang awalnya dicetak cuma 5000 eksemplar, ludes terjual. Tak heran, GPU tak segan-segan mencetak ulang novel tersebut hingga beberapa kali. Selain itu, penerbit ini juga mencetak novel-novel Lupusselanjutnya. Mulai dari Tangkaplah Daku Kau Kujitak, Mahkluk Manis Dalam Bis,Cinta Olimpiade, Tragedi Sinemata, maupun Topi-Topi Centil. Bukan cuma serial Lupus yang sudah SMA, tetapi Hilman membuat serial Lupus Kecil dan kisah Lupus sewaktu SMP di serial Lupus ABG. Total novel-novelnya terjual jutaan eksemplar. Gara-gara Lupus, Hilman menjadi salah seorang penulis muda sukses.
Kesuksesan itu membuat Hilman diidentikan dengan sosok Lupus yang konyol atau kata anak sekarang gokil. Hilman adalah Lupus, Lupus adalah Hilman. Ia pun dijuluki sebagai ‘Si Jago Ngocol Se-Indonesia’. Padahal, dalam kesehariannya, ia mengaku bertolak belakang dengan tokoh Lupus. Pria yang sempat tergabung dengan komunitas menulis High Club ini adalah sosok pendiam dan bertampang serius. Justru lewat Lupus, ia bisa mengeksplorasi kegilaan dan kejahilannya.
Kompasianers, Hilman merupakan penulis muda produktif. Di tengah-tengah kesibukannya menjadi karyawan di Indosiar saat itu -ia masuk Indosiar pada Maret 1993 sebagai script supervisor-, ia menulis beberapa novel. Selain novel serial Lupus, ia juga menulis sejumlah novel remaja yang tak kalah hebat, yakni Olga (1990), Sohib Gaib (1992), SMA Elite (1993), Mimpi Full Colour (1998), Reformasi Damai (1998),Napak Tilas Para Hantu (1992), Sidang Para Hantu (1994), Kenduri Karet (1994),Buaya-Buaya Geologi (1995), Kleptomania (1998), dan masih banyak lagi.
Setelah keluar dari Indosiar sebagai Drama Producer pada 2005, Hilman menjadi penulis skenario sinetron. Cinta Fitri adalah sinetron garapan Hilman. Selain itu, Melati untuk Marvel, Arti Sahabat, dan beberapa sinetron lain. “Sekarang yang lagi tayang sinetron Kami Bukan Malaikat dan Saranghae,” jelas pria yang sedang sibuk tengah mempersiapkan beberapa judul sinetron lain ini.
Insya Allah jika tidak ada aral melintang, pada 2012 ini, serial Lupus will be back. Anda yang dahulu pernah dan barangkali sampai saat ini nge-fans dengan Lupus akan dihibur lagi anak muda yang ngocol ini. Tentu ada bahasa dan setting yang di-update, sehingga anak-anak remaja sekarang juga bisa menikmati.
“Awalnya dari mau dibikinnya film Lupus yang temanya reborn. Ya, kayak waktu ada film Batman Begins atau Amazing Spiderman. Jadi Lupus-nya di-reboot lagi,” jelas Hilman, yang pernah menjadi juara dalam sayembara mengarang cerpen pada 1978 ini, dengan judul cerpen Bian, Adikku Yang Tidak Pernah Ada ini.
Momentum film Lupus yang akan diproduksi itu menurut Hilman tepat sekali dengan keinginan GPU merilis ulang buku-buku klasik Lupus dengan sentuhan baru. “Gue disuruh baca ulang dan disuruh meretouch. Pas gue baca-baca lagi, gue geli-geli sendiri. Kok dulu culun banget ya gue nulisnya?”
Kelima novel yang dibundel jadi satu itu adalah novel Tangkaplah Daku Kau Kujitak,Mahkluk Manis Dalam Bis, Cinta Olimpiade, Tragedi Sinemata, dan Topi-Topi Centil. Meski retouch disesuaikan dengan kondisi sekarang, tapi Hilman tetap melihat ada hal yang masih relevan dengan anak muda sekarang.
“Kalo dulu Lupus gayanya ala Duran-Duran, ternyata anak-anak sekarang gayanya ala K-Pop yang sama aja seperti Duran-Duran, pakai jambul segala,” kata Hilman yang diminta pihak GPU untuk memulai melakukan project ini pada Juni 2012 lalu dandeadline-nya terbit akhir 2012 ini. “Kalo joke-joke-nya memang ada yang garing kalo dipakai di situasi sekarang ini, tetapi ada juga yang masih terasa lucu. Jadi, gue tulis ulang lagi semuanya, dengan revisi sana-sini. Trus ada beberapa cerita yang tadinya jadul banget, gue ubah jadi yang lebih segar.”
Tentang film Lupus, Hilman menjelaskan, bahwa pemeran utama Lupus akan dicari via televisi. Nanti, dibuat program acara semacam kontes Indonesian Idol. Kemungkinan besar, stasiun televisi yang akan menyiarkan adalah RCTI.
“Masa gue?” ujar Hilman ketika saya tanya kenapa bukan dirinya yang berperan sebagai Lupus. Seperti Anda ketahui, setelah Ryan Hidayat meninggal, pemeran Lupus di film pernah dimainkan oleh Hilman sendiri. “Dulu aja kecelakaan banget gue main.”
Kompasianers, bagi Anda penggemar Lupus, tentu sudah tidak sabar lagi menunggu dua novel serial Lupus yang akan terbit pada 2012 ini, novel yang di-retouch dan yang terbaru. Plus menantikan film layar lebar ‘Si Jago Ngocol Se-Indonesia’ ini.
Add caption
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar